Tim PKM FIO Unesa Gelar Edukasi Gizi dan Permainan Tradisional kepada Masyarakat - Telusur

Tim PKM FIO Unesa Gelar Edukasi Gizi dan Permainan Tradisional kepada Masyarakat

Sosialisasi Tumbuh Kembang Anak oleh Tim PKM FIO Unesa pada masyarakat Lidah Wetan, Surabaya

telusur.co.id - Gizi pada masa lima tahun pertama usia seorang anak akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak di masa depan. Kekurangan gizi rawan terjadi pada kelompok usia balita sehingga perlu diberikan perhatian khusus pada kelompok usia ini. 

Dampak yang dapat timbul akibat kekurangan gizi pada lima tahun pertama adalah perkembangan otak dan pertumbuhan fisik yang terganggu sebagai dampak jangka pendek, sementara dalam jangka panjang dampak yang dapat timbul adalah risiko tinggi munculnya penyakit tidak menular pada usia dewasa. 

Untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak usia dini, maka diperlukan edukasi yang benar terhadap orang tua. Hal inilah yang mendorong tim PKM Fakultas Ilmu Olahraga Universitas Negeri Surabaya (FIO Unesa) melakukan kegiatan sosialisasi tumbuh kembang anak kepada masyarakat di Kawasan Lidah Wetan, Surabaya.

Tim PKM yang digawangi oleh Ratna Candra Dewi, Sri Wicahyani, Eva Ferdita Yuhantini, dan Anindya Mar’atus Sholikhah ini sukses menggelar kegiatan dengan tema “Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak Usia Dini Melalui Edukasi Gizi dan Permainan Tradisional”. 

Kegiatan ini dilakukan secara offline dan dihadiri secara terbatas oleh 6 ibu kader dan 10 ibu balita yang tergabung dalam posyandu Sawunggaling I pada Jumat, (29/10).

Kegiatan PKM diawali dengan pembagian booklet kepada seluruh peserta yang hadir. Booklet ini berisi materi mengenai gizi dan permainan tradisional yang dapat meningkatkan tumbuh kembang anak. 

“Harapannya, dengan adanya buku ini tingkat pengetahuan ibu mengenai gizi dan pola asuh balita dapat ditingkatkan, sehingga balitanya dapat mencapai pertumbuhan yang optimal,” beber Anindya, perwakilan tim PKM Fakultas Ilmu Olahraga Unesa yang turut menyusun booklet tersebut pada keterangan tertulisnya. Kamis, (04/11/2021). 

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar tiga jam itu, tim PKM memberikan edukasi mengenai gizi dan aktivitas fisik anak usia dini kepada ibu balita.  

Ketua Tim PKM, Ratna Candra Dewi yang sekaligus menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut menyatakan bahwa, edukasi gizi sangat diperlukan untuk menambah pengetahuan ibu-ibu agar lebih memperhatikan aspek keamanan pangan, mutu, serta nilai gizi yang sesuai dengan kebutuhan anak. 

“Pemenuhan gizi seimbang bagi anak usia dini sangat penting, khususnya di masa 1000 hari pertama kehidupan, yakni dimulai pada saat ibu mengandung sampai anak berusia dua tahun,” terang Ratna. 

Gizi yang tercukupi pada masa ini dan masa balita akan membantu anak untuk tumbuh dengan sehat. Sebaliknya, gizi yang tidak seimbang pada lima tahun pertama akan berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak, terutama perkembangan otak dan pertumbuhan fisiknya.  

“Oleh sebab itu, penting bagi ibu dan anggota keluarga untuk memastikan anak mendapat asupan gizi yang seimbang, khususnya pada saat anak berada dalam periode emas,” tandasnya. 

Tim PKM juga menekankan pentingnya aktivitas fisik bagi anak-anak, terlebih di era 4.0 saat ini yang mana kemajuan teknologi menjadi salah satu penyebab kurangnya anak-anak melakukan aktivitas fisik. Begitu pula dengan keberadaan permainan tradisional yang kian tergerus zaman dan teknologi modern.  

Berbagai macam permainan tradisional seperti congklak, kelereng, dan lompat tali, kini perlahan mulai tergantikan oleh permainan modern dan gadget yang dapat memicu peningkatan sedentary activity, alih-alih mendorong anak untuk bergerak aktif. 

“Anak-anak sekarang lebih suka bermain gadget, apalagi di masa pandemi seperti saat ini, gadget membuat anak semakin betah di rumah dan malas bergerak,” papar salah satu tim PKM, Eva yang memberi materi dalam kegiatan tersebut.  

Ia menambahkan bahwa, peran orang tua dalam mengenalkan kembali permainan tradisional pada anak sangat dibutuhkan agar anak bisa tergerak untuk melakukan aktivitas fisik, di samping meningkatkan motorik kasar khususnya pada anak usia 4-6 tahun. Selain bermanfaat bagi perkembangan fisik, permainan tradisional yang dilakukan juga dapat membentuk karakter dan pribadi anak. 

“Permainan tradisional juga memiliki fungsi pedagogik, salah satunya bisa mendidik anak untuk belajar bekerja sama, bersosialisasi, menggali kreativitas, dan meningkatkan kepercayaan diri. Hal-hal ini lah yang tidak bisa mereka dapatkan dari gadget,” jelas dosen Pendidikan Olahraga (Penor) FIO Unesa, Sri Wicahyani. 

Tim PKM berharap bahwa, kegiatan ini bisa menjadi suatu program yang berkelanjutan, sehingga ibu balita bisa lebih aware lagi terhadap pertumbuhan dan perkembangan putra-putrinya. Sebab, gizi dan aktivitas fisik pada anak usia dini merupakan faktor penting yang menentukan status kesehatan mereka ke depannya.  

“Dengan adanya kegiatan ini kita juga berharap bisa mencegah masalah gizi yang muncul di fase kehidupan anak selanjutnya, seperti overweight, stunting, atau pertumbuhan lambat, sekaligus memasyarakatkan kembali aktivitas fisik melalui permainan tradisional,” tutup Ratna mengakhiri kegiatan PKM. (ari)


Tinggalkan Komentar