telusur.co.id - Pengusaha rokok asal Situbondo, Jawa Timur, HRM. Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy sebagai Owner & Founder Bandar Rokok Nusantara Global (Barong Grup), tengah mempersiapkan dan mematangkan ulang industri tembakau nasional.
Melalui skema, kata Gus Lilur, sapaan akrabnya, integrasi antara pabrik skala internasional dan pemberdayaan masyarakat, pria yang akrab disapa Gus Lilur ini menargetkan pembentukan ekosistem ekonomi yang mampu menyerap 40.000 tenaga kerja secara langsung.
“Strategi besar ini dirampungkan di Manila, Filipina, sebagai tonggak awal transformasi grup bisnisnya dari tahap pemenuhan legalitas menuju fase ekspansi masif,” tandas Founder GP Sakera ini lewat keterangan tertulisnya. Minggu, (15/3/2026).
Alumni santri Denanyar, Jombang ini memproyeksikan, pembangunan gudang tembakau di 17 kabupaten serta 19 pabrik rokok yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Menurutnya, berbeda dengan model bisnis rokok konvensional yang cenderung tersentralisasi, Barong Grup mengusung konsep "Usaha Rakyat Usaha Konglomerat".
Alumnus aktivis HMI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat ini berencana membina serta membiayai 2.000 Perusahaan Rokok (PR) tingkat UMKM. Setiap unit UMKM ini nantinya akan menyerap 20 karyawan, menciptakan jaring pengaman ekonomi yang luas di tingkat daerah.
"Saya tidak sekadar mengejar profit murni sebagai pengusaha. Di 17 kabupaten tempat gudang raksasa berdiri, saya akan membangun dan mendanai 2.000 PR UMKM untuk melakukan manufaktur atau maklun," bebernya.
Rencana ini, lanjut Gus Lilur, mencakup enam varian blend tembakau unggulan yang berbasis pada kekayaan geografis Indonesia, mulai dari Virginia Blend khas Lombok, Oriental asal Madura, hingga Srintil dari Temanggung.
“Produksi UMKM ini akan berjalan beriringan dengan 19 pabrik skala besar yang berlokasi di wilayah strategis, termasuk penambahan unit di Sidoarjo dan Malang,” urai pengusaha pegiat filantropi ini.
Untuk mendukung rantai pasok, masih dengan Gus Lilur, Barong Grup telah menyiapkan dua induk perusahaan tembakau, yakni Nusantara Global Tobacco dan Bandar Tembakau Indonesia.
“Distribusi produk nantinya akan dikelola secara mandiri melalui perusahaan logistik "Angkut Barang Seluruh Nusantara" (Abang Setara),” tukas Tokoh Nahdliyin Inspiratif versi Forum Jurnalis Nahdliyin (FJN) Ini.
Ekspansi infrastruktur ini dipetakan secara strategis di tiga provinsi utama, yang diawali dengan penguatan basis di Jawa Timur meliputi Sumenep, Pamekasan, Situbondo, Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi, serta penambahan unit pabrik di Sidoarjo dan Malang.
“Langkah ini kemudian diperluas ke Jawa Tengah dengan menyasar sentra tembakau di Temanggung, Wonosobo, Demak, Kudus, Pati, Magelang, hingga Jepara,” sebut Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI) ini.
Sebagai pelengkap rantai pasok dari sisi timur, Gus Lilur juga mengunci titik distribusi dan produksi di Nusa Tenggara Barat yang mencakup wilayah Lombok Timur, Lombok Tengah, serta Mataram.
Kader muda NU ini menjelaskan bahwa, penguatan di sisi hulu (petani tembakau) dan tengah (pabrik UMKM) merupakan fondasi untuk membawa produk rokok Indonesia merajai pasar internasional.
Saat ini, ditambahkan Gus Lilur, lima dari enam induk perusahaan rokok miliknya telah mengantongi legalitas lengkap, sementara satu lainnya dalam tahap finalisasi.
"Ini adalah konsep untuk menjadikan Indonesia sebagai kaisar rokok dunia. Saatnya petani kita kaya dan industri hasil tembakau nasional berjaya di tanahnya sendiri," tutur Kanjeng Pangeran Edo Yudha Negara ini. (ari)



