telusur.co.id - Banyaknya sumber blue energy di laut selatan Tulungagung dipilih oleh Departemen Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bekerja sama dengan Heriot Watt University, Scotland-UK, untuk diteliti pemanfaatannya bagi peningkatan blue economy (Ekonomi Kelautan). Observasi ini tidak hanya dilakukan oleh ITS dan Heriot Watt University saja, tetapi juga dari berbagai universitas di Indonesia.

Adapun universitas lain yang terlibat di dalam kegiatan tersebut adalah Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Indonesia, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Mataram. Selain observasi, para peneliti juga melakukan audiensi dan paparan ke jajaran pemerintah Kabupaten Tulungagung, yang diwakili Bappeda dan Dinas-Dinas terkait, Badan Kemaritiman NU (BKNU) Tulungagung, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Tulungagung dan industri di Hotel Lojikka.
 
Ketua Peneliti dari Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS Surabaya, Irfan Syarif Arief menyampaikan goal utama dari jalannya penelitian ini menuju Indonesia Blue Energy for Blue Economy (IBEC). 

“Jadi harapannya bagaimana agar kita bisa bergerak bersama untuk kemandirian energi," terang Irfan seperti yang dilansir Radar Tulungagung. Selasa, (09/8/2022).
 
Konsep IBEC sendiri, kata Irfan, akan disinergikan antara keekonomian kelautan dan energi laut. Potensi tersebut diantaranya gelombang, arus laut, ocean thermal energy convertion (OTEC), dan perbedaan kadar garam.
 
Termasuk juga offshore-wind atau angin yang di laut dan floating solar yaitu energi surya yang terapung di laut. 

“Teknologi ini bisa dikombinasikan atau hybrid, yang bisa dimanfaatkan masyarakat pesisir dan masyarakat kepulauan kecil. Untuk keberlanjutan dan ke mandirian energi di masyarakat pesisir atau pula terkecil perlu sentuhan teknologi dan model bisnis dari para akademis atau Perguruan Tinggi serta peran aktif dari masyarakat dan pemerintah," tambah Irfan.
 
Yang terpenting juga, lanjut Irfan, ekonomi terkait dengan masalah sosial teknologi perikanan. Misalnya, masih banyak kendala operasional kapal nelayan terhadap pembatasan bahan bakar bersubsidi, sehingga tidak bisa menjangkau fishing ground atau area ikan. 

“Jaraknya sampai 60 mil ke atas. Saat ini 300 liter per hari nelayan tidak bisa pergi jauh untuk menangkap ikan ke tengah laut," bebernya
 
Pada permasalahan sosial, dimana pada ekonomi kelautan terdapat masalah kehidupan. Misalnya pada  pemberdayaan sumber, bagaimama pengelolaan ikan yang harganya murah, bisa ditingkatkan untuk produk bernilai yang bernilai tinggi, bisa menjadi produk ekspor, bisa ditingkatkan nilainya dengan penggunaan teknologi pengolahan bahan makanan dan didukung oleh Blue Energy," imbuhnya.
 
Peningkatan ekonomi ini juga untuk program yang sustainability, bukan kegiatan yang sifatnya sporadis tidak inline dengan program daerah. 

"Atau kemungkinan desanya yang tidak punya program yang bisa ditawarkan ke investor, sehingga perlu dikoneksi, karena jika berdiri sendiri tidak bisa mendukung, prosesnya akan lebih lambat,” ungkapnya.
 
Lebih lanjut Irfan, IBEC nantinya menjembatani sustainability gap, yaitu gap antara yang menyebabkan tidak sustain atau tidak berkelanjutan. Sedangkan yang berperan dalam IBEC yaitu  pemerintah dengan aturan kebijakannya, kalangan akademis dengan berbagai penelitiannya, kalangan bisnis dengan komersialisasi produknya, serta komunitas dan masyarakat sebagai penggerak utama.
 
Sementara, Joanne S. Porter dari Heriot Watt University, Scotland-UK menyampaikan bahwa, blue energy telah diterapkan di negaranya. 

"Siapa yang punya alat, dites dalam skala kecil, dicoba dievaluasi, baru dibuat skala besar," tutur Joanne.
 
Kegiatan ini didukung oleh Aqutera Ltd-UK, British Council dan Kedaireka dengan tema A ‘challenge-based learning’ pilot project for developing Sustainable and Blue Energy and Economy Literacy and Roadmap in Indonesia. (ari)