telusur.co.id - Tanpa protokoler hanya ditemani ajudan, Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko datang ke acara tahlil dan ambengan dalam rangkaian haul Kiai Ageng Muhammad Besari. Bahkan, Kang Bupati memilih lewat Jembatan Wot Gandul Shiratal Mustaqim sebelum memasuki area makam yang berada di sisi barat Masjid Jami’ Tegalsari.
 
Seperti biasa, kedatangan Kang Bupati, Senin (20/5/2024) selepas Isya’ itu, warga banyak yang ini ber-swa foto bersama Kang Giri.
 
Kang Bupati memasuki area makam didampingi jajaran Forkopimcam Jetis serta imam dan takmir Masjid Jami’ Tegalsari. Bacaan tahlil dan doa berlangsung selama 45 menit bersama ribuan jamaah yang hadir hingga luar pemakaman.
 
Seperti peserta tahlil lainnya, Kang Bupati mendapat bagian ambengan berupa nasi, sayur kentang, urap, dan kepala ingkung ayam yang semuanya tersaji di atas daun pisang.
 
“Saya datang ditemani ajudan,” ujar Kang Bupati.
 
Kang Giri tampak berbincang akrab dengan Kiyai Haji Syamsuddin, imam Masjid Jami’ Tegalsari. Sesekali keduanya saling menepuk pundak pertanda kedekatan antara ulama dan umara.
 
Nasi kenduri akhirnya disantap dengan lahap. Acara selesai, Kang Bupati menuju halaman depan masjid. Spontan Jamaah yang mengenalinya kembali berebut foto bersama dengan background menara Masjid Jami’ Tegalsari.
 
“Kiai Ageng Muhammad Besari menyandang nama besar,” ucapnya.
 
Karena, Pesantren Tegalsari sudah melahirkan sejumlah ulama yang mendirikan pesantren ternama di belahan Nusantara. Kiai Ageng Muhammad Besari juga mendapat sebutan mahaguru para raja Jawa.
 
Kang Bupati mengungkapkan bahwa, haul bukan sebatas memperingati wafatnya Kiai Ageng Muhammad Besari. Namun, mengenang jasa-jasa almarhum semasa menyebarkan Islam di Ponorogo pada sekitar abad ke-17. Bersamaan itu, ada warisan nilai-nilai luhur yang tetap relevan diimplementasikan sekarang ini. (bic/ari)